WHV Indonesia (Step by Step)

“Step by step

U u u u u ~”

 

*Terbawa suasana dalam alunan lagu NKOTB :))

 

Here we go.

Ini berdasarkan pengalaman saya ketika dapetin visa WHV ya. Tapi timeline-nya untuk tiap orang kurang lebih sama.

  1. Tes IELTS
  2. Apply online di website Imigrasi Indonesia
  3. Nunggu undangan wawancara
  4. Nyiapin dokumen
  5. Wawancara di kantor Dirjen Imigrasi di Jakarta
  6. Dapat “surat sakti”
  7. Apply visa ke VFS (perwakilan embassy)
  8. Tes kesehatan
  9. Visa granted

WOHOOOO!

Details;

  1. Tentang tes IELTS bisa dicek di postingan tentang tes IELTS
  2. Ikutin aja petunjuk di websitenya. Kalo paspor mo abis masa berlakunya tapi belum sempet bikin baru, cantumin paspor yang lama lalu waktu interview bawa paspor lama dan baru kamu ya.
  3. Dari waktu saya apply sampai dipanggil wawancara, kira-kira nunggu sampai 1 bulan. Menurut pengalaman senior-senior, ada yang sampai 6 bulan kemudian baru dipanggil. Sedih banget itu mah kalo udah sampai resign dari kerjaan tapi belum sampai-sampai dipanggil interview.
  4. Karena dokumen saya lengkap, saya nggak perlu waktu lama untuk ke proses berikutnya. Jadi, please lengkapin dokumenmu daripada bolak balik harus tek-tokan sama pewawancara karena dokumen kurang lengkap, yang mana bisa bikin tambah lama prosesnya. Tapi kalau semisal kepepet, seperti misal hasil tes IELTS yang belum diperoleh, tetep bisa disusulkan. Biasanya kamu akan diberi alamat email pewawancara untuk follow up aplikasimu. Jadi, kamu bisa kirim hasil IELTSmu ke beliau. Beri waktu kira-kira 2 minggu sebelum kamu mulai follow up. Karena yang beliau urus kan nggak cuma aplikasimu ­čÖé
  5. Pertanyaan yang saya dapet kira-kira; di sana mau ngapain, tau program ini dari mana, di sana tinggal di mana nantinya, mau kerja apa nantinya, dan kenapa memilih kota yang mau kamu tuju.
  6. Temen-temen sering bilang “surat sakti”, nama resminya sih “surat rekomendasi”. Surat ini kurang lebih bilang kalo, “kamu diperbolehkan untuk daftar WHV”. Saya dapetin surat ini 3 hari setelah wawancara.
  7. Dokumen apa aja yang harus dipenuhi, bisa cek di website VFS . Soal tiket, nggak perlu dicantumin kok. Pengalaman saya sih nggak papa. Oh waktu itu saya diminta akte kelahiran sama Kartu Keluarga. Agak kaget karena saya baca-baca di website itu dan beberapa petunjuk dari senior-senior, nggak ada yang ngomongin soal ini. Akte kelahiran pas banget saya bawa, tapi Kartu Keluarga nggak. Akhirnya harus minta orang rumah untuk kirim foto lalu diprint (astaganaga itu warnet dan ngeprint di VFS mahal bener).
  8. Saya nunggu sekitar seminggu setelah apply di VFS untuk dapetin HAP ID dan surat pengantar untuk tes kesehatan. Selain surat pengantar, dicantumkan juga rumah sakit-rumah sakit yang melayani tes kesehatan yang dirujuk oleh Australian Embassy. Untuk di Semarang, bisa dilakukan di RS Elisabeth. Selesai tes kesehatan, hasilnya akan dikirim langsung oleh pihak rumah sakit ke VFS. Jadi tinggal nunggu pengumuman dari VFS deh.
  9. VOILA! Saya nunggu kira-kira 4 hari sampai akhhirnya dapat Visa elektronik. Visa nggak dicap ato ditempel di passport. Datanya online. Karena kurang yakin, saya print visanya dan dibawa ketika melewati Imigrasi di bandara. Tapi petugas juga nggak ngecek printed visa saya kok waktu itu.

 

Thanks for reading this article ­čÖé

Advertisements

Liburan Sambil Kerja di Australia

 

Di postingan lalu saya cerita tentang perjuangan (berat amat kayaknya yha) dapetin skor IELTS buat WHV. Trus WHV itu apa?

Sodara, temen-temen dan keluarga sendiri pada nanya-nanya. Mungkin memang belum banyak yang familiar dengan visa ini.

Iya WHV, V-nya itu Visa. Work and Holiday Visa. Visa untuk bekerja dan berlibur. Jadi dengan visa ini, pemegang visanya diperbolehkan untuk bekerja sambil liburan atau liburan sambil bekerja di Australia selama 1 tahun serta berkesempatan untuk menambah 1 tahun lagi dengan syarat tertentu (mulai 19 November 2016). Selain itu, visa ini memungkinkan kita keluar masuk (multiple entries) Australia selama setahun. Untuk warga negara Indonesia, cuma punya kesempatan untuk mendapat WHV di Australia.

Kalo biasanya kamu berkunjung ke suatu negara untuk berlibur dengan visa berlibur, udah pasti nggak boleh kerja. Nyalahgunain kunjungan liburan untuk kerja (kerja dengan visa berlibur), kalo ketahuan petugas imigrasinya di sana, bisa-bisa dideportasi dan bahkan di-blacklist ga boleh masuk ke negara itu lagi :O

Nah makanya, dengan visa ini, sembari liburan, kamu bisa dapetin uang buat biayain liburanmu. Asique khaaan ~

This visa is for young people who want to holiday and work in Australia for up to a year.

Nah syarat utama dari WHV itu; usia pelamar visa 18-30 tahun. Syarat lainnya bisa dilihat di website Imigrasi Indonesia dan Kedutaan Australia. Syarat-syaratnya ini nggak bisa dinego ya guys!

Kalo misal kamu udah pernah kuliah tapi nggak kelarin kuliahnya (nggak ada ijazah), asal bisa kasih bukti seperti surat keterangan dari kampus yang menyatakan kalo kamu udah pernah kuliah selama 2 tahun, bisa juga disertakan.

Pembuatan visa ini mudah kok dan nggak dipungut biaya apapun selama prosesnya, jadi nggak perlu pake agen. Hanya perlu membayar visa (sejumlah 4,8juta di bulan Desember 2016) dan Medical Check Up (biayanya berbeda-beda di setiap rumah sakit yang ditunjuk oleh kedutaan Australia).

Tapi untuk pelamar visa dari luar Jakarta memang harus lebih effort-nya, karena wawancara hanya diakukan di kantor Dirjen Imigrasi di Jakarta. Apalagi biasanya jadwal wawancara ini munculnya dadakan kayak tahu bulet. Jadi harus selalu siap dengan dokumen administrasinya.


KERJA APA NANTI?

Kekhawatiran orang-orang di circle saya setelah saya kasih prolog tentang WHV adalah; kerjanya kerja apa? Nanti apply dari mana? Loh kerjanya nyari sendiri? Gimana caranya cari kerjanya?

*nyeduh teh*

Dari informasi-informasi yang saya kumpulin sebelum berangkat ini,┬ákerja apa saja bisa dilamar oleh para pemegang WHV atau biasa juga disebut para “backpackers”. Tapi kebanyakan yang dilamar oleh para backpackers ini adalah kerja casual. Pekerjaan dengan jumlah jam kerja yang nggak tentu, bisa sewaktu-waktu diputus/memutus kerja, dan biasanya nggak butuh syarat yang rumit dan pengalaman sampai bertahun-tahun. Misalnya metik buah di perkebunan, memerah sapi di peternakan, jadi waitress di cafe atau houskeeper di hotel. Karena balik lagi ke esensi dari prgram ini, untuk liburan dan bekerja. Jadi nggak melulu soal kerjaannya.

Ada juga backpacker yang berhasil “ngantor” full time di sebuah perusahaan, dengan title┬áyang sama ketika doi kerja di negara asalnya. Tapi, perlu diperhatikan juga bahwa peraturan WHV ini salah satunya adalah nggak memperbolehkan untuk bekerja di satu employer lebih dari 6 bulan. Artinya kalo mau nerusin kerja di perusahaan tersebut (lebih dari 6 bulan), perlu bikin visa kerja yang disponsorin sama perusahaannya.

Lalu dari mana tau ada kerjaan apa dan di mana? Ada situs seperti gumtree.com.au, seek.com.au, jobsearch.gov.au, dan thejobshop.com.au yang biasa jadi rujukan untuk pencarian kerja. Di situs tersebut employer akan beriklan lowongan kerja, dengan menyertakan kontak. Tapi kontaknya cuma bisa diakses di Australia. Jadi kecil kesempatan untuk bisa dapat kerja dulu sebelum sampai di Australia.

Gabung ke grup-grup Facebook juga beberapa kali membantu, menurut pengalaman beberapa temen. Jadi sebelum berangkat, mereka udah mulai nyari pekerjaan di kota-kota tertentu, lewat grup Facebook di kota-kota itu. Lalu kalo mereka beruntung, mereka akan di-hire oleh employer.

Kesempatan dapat kerja sebelum sampai di Australia lebih besar kalo; punya temen yang ada di sana dan bisa diminta tolong untuk nge-tag kerjaan di suatu tempat dan melamar kerja jadi Au Pair. Au Pair ini bisa dibilang “asisten rumah tangga”. Untuk dapet host fam (employer) au pair, bisa lewat aupairworld.com.

Kerja jadi ART aka asisten rumah tangga di Australia beda banget sama di Indonesia. Jam kerjanya lebih sedikit dan jasanya sangat dihargai. Misalnya kerja 5 jam dalam sehari, 5 hari seminggu dapat gaji 250 AUD/minggu. Udah gitu kadang diajak liburan juga. Ini bisa jadi nguntungin buat backpackers yang baru awal nyampe Australia untuk menghemat pengeluaran untuk akomodasi dan makan. Dan selain kerja di rumah tersebut, biasanya dipersilakan untuk kerja casual lainnya.

Selain cari kerjaan lewat website-website di atas, cara paling ampuh katanya dengan datang langsung dan menyampaikan CV ke tempat-tempat yang memang kita tuju untuk bekerja. Bisa datang ke perkebunan, datang ke cafe dan ke hotel.

Hati-hati dengan tawaran kerja dari beberapa agen pemberi kerja/broker/working hostel. Kalo tawarannya too good to be true, atau dari agen yang nggak dikenal dan bahkan menarik sejumlah biaya sebelum mulai kerja, bisa jadi itu scam. Dan karena demand yang tinggi (biasanya untuk memenuhi syarat 2nd year visa), beberapa backpackers terjebak untuk melakukan pekerjaan ini.


Tinggal di mana?

Nggak ada yang menjamin ketersediaan pekerjaan dan tempat tinggal untuk para pemegang visa ini. Kita musti survive sendiri, dengan cari kerja dan akomodasi sendiri. Mungkin kalo pake agen, akan dibantu dicarikan kerja dan akomodasi. Tapi kurang tau juga, ini cuma bayangan saya. Karena saya pikir, ngapain harus pake agen kalo prosesnya sebenernya kita sendiri yang ngelakuin kan?

Kalo punya teman di sana, bisa minta tolong carikan info dan atau malah bisa numpang di rumahnya selama beberapa waktu. Kalo melamar Au Pair, bisa dapet akomodasi dan makan gratis yang dibarter dengan kerja beberapa jam sehari. Kalo nggak ada temen dan nggak berminat untuk Au Pair? Paling mudah dengan booking penginapan di Hostel atau lewat Airbnb. Selanjutnya, bisa cari akomodasi yang biasanya di apartemen dengan beberapa orang roommate, lewat gumtree.


Uangnya….

Hummm modalnya memang lumayan gede yah. Saya bagi 2 menjadi pra dan pasca granted; pra granted (IELTS + biaya visa + MCU) dan pasca granted (transportasi + akomodasi + uang saku). Kalo dirasa berat langsung menyiapkan dana untuk 2 fase tersebut, sebenernya bisa satu per satu dulu. Supaya berasa lebih ringan persiapan dananya.

Karena sebenernya visa ini memberikan kesempatan 1 tahun untuk pemegangnya masuk ke Australia sebelum visanya hangus, dan berlaku 1 tahun semenjak pemegangnya masuk ke Australia. Jadi misalnya visa saya granted 19 Desember 2016. Saya masih punya kesempatan untuk berangkat sampai tanggal 19 Desember 2017. Artinya, kalo saya sampe di Australia di tanggal 19 Desember 2017 tersebut, masih boleh, visanya masih berlaku. Dan ketika saya masuk Australia 19 Desember 2017, saya boleh tinggal sampe 18 Desember 2018.

Jadi, kalo mau kerja buat nabung dulu setelah kelar dengan urusan pra granted, ada kesempatannya selama setahun itu.

 

WHV ini nggak cuma dari Indonesia ke Australia, tapi juga sebaliknya. Tapi nggak tau deh ada apa enggak WHVers dari Australia yang ke Indonesia. Dan Selain Indonesia, ada banyak negara lain yang ikut bagian dalam program WHV Australia ini. Jadi, di sana akan banyak kesempatan untuk ketemu orang-orang dari berbagai negara, nggak cuma orang Australianya sendiri.

Untuk proses mendapatkan WHV, akan saya ceritain di post berikutnya yaa!

Kalo ada yang mau ditanyain, komen aja di bawah.

Thank you for reading this post ­čÖé

 

 

 

 

 

Demi (skor) IELTS

Karena biaya tesnya yang “nyolok mata” awalnya ngeri banget mau ambil tes ini. Apalagi belom ada temen di sekitar yang pernah ambil tes ini, jadi ga ada yang bisa kasih gambaran pasti dan friendly (ceile.. Glenn kali, friendly) tentang tes IELTS ini. Rugi bandar banget kalo skornya nggak nyampe kan. Akhirnya yakin pada keteguhan hati dan diri untuk ambil tesnya.


First thing first, ngapaiiiin mau ambil tes IELTS yang mahal* ini?

Ini karena saya mau ikut program WHV (nanti dijelasin di lain post ya) yang salah satu syaratnya perlu skor IELTS 4,5. Tapi karena setelah WHV ini saya pengen lanjut sekolah, saya mematok skor 6,5 harus didapetin. Jadi, harga mahal nggak bisa dilawan juga, wong namanya syarat. Dan harganya itu harga universal.

“Skor 4,5 doang mah gampang. At least bisa pada dapet skor 5 deh. Ambil yang General IELTS aja yang lebih gampang.”

Katanya gitu. Gampang. Tapi ternyata ada yang dapet skor 3,5 loh walopun ini dibilang gampang.

Walopun dibilang gampang dan sudah pintar English, tetap harus belajar sih menurut saya. Belajar berlatih soal dan aturan-aturan tesnya. Agak berbeda kalo dibandingkan dengan TOEFL ITP (yang pernah saya ambil juga). Seperti yang saya ceritain di post yang lalu, tes IELTS ini rapet banget waktunya. Bahkan kurang ya kalo menurut saya hihihi. Jadi, butuh manajemen waktu untuk terutama ngerjain di section Reading dan Writing. Ini sih yang perlu dilatih.

Misal, untuk tes Reading, gimana caranya baca 3 artikel pendek (kira-kira 6-10 paragraf) lalu jawab pertanyaan-pertanyaan terkait hal-hal yang ada di artikel itu dalam waktu 1 jam. Jenis pertanyaan untuk tes Reading IELTS pun ada 11 macem (tapi nggak semua macemnya langsung diceplokin ke 1 tes, kalo ada 3 artikel ya kurang lebih ada 6 macem).

Tapi ya gitu, kalo nggak biasa dengan pertanyaan-pertanyaan model begini, pasti bakal kelabakan banget. Dan yang paling penting ya memBACA. Latihan membaca dan nemuin poin utama dari tiap paragrafnya. Saya sendiri sempet kelabakan karena kesulitan nemuin poin utama dari beberapa paragraf di artikel waktu tes.

Kalo pesen dari temen saya yang guru bimbel English, kerjakan artikel yang lebih mudah dimengerti dulu. Karena artikel-artikel tersebut, terutama untuk tes Academic, bisa berasal dari paper atau jurnal dari berbagai bidang, yang mungkin di bahasan isu dan vocabulary di dalamnya asing untuk sebagian orang.


Mulai belajar dari mana?

Awalnya memang saya udah berencana nggak mau ambil les. Bahkan pengen go show aja, daftar > bayar > tes > result. Untungnya nggak beneran go show. Kalo beneran mah nggak ngerti itu dapet skor berapa :))

Tapi akhirnya “ngobrol” sama temen saya yang jadi guru bimbel English itu. Saya harus belajar dari mana? Listening dulu? Ato Reading, Writing, Speaking?

Menurut dia, lebih baik kalo dimulai dari Writing dulu. Kenapa writing? Karena kita akan berlatih untuk menemukan poin utama dan poin-poin pendukungnya. Sehingga ketika diaplikasikan ke bagian tes yang lain (Reading, Listening dan Speaking), rumusnya pun sama.

150 kata + 250 kata dalam 1 jam. Mau nulis apa aja?

Gimana merangkai 250 kata untuk jawaban dari 2 kalimat pertanyaan tentang sebuah isu?

*cry*

Saya sampe berulang-ulang latihan Writing lebih banyak dibanding section lain. Ada mungkin 5:1 lebih banyak Writing.

Tapi sungguh! Ini membantu banget buat saya. Karena selain berlatih bikin poin utama dan pendukung, saya juga berlatih untuk keluarkan lebih banyak variasi vocabulary. Meski artinya sama, saya bisa keluarin 4 kata berbeda di dalam 1 esai jawaban. Kan lumayan banget nambah-nambah poin jumlah kata.

Trus imbasnya ke section lain, saya jadi lebih mudah nangkep poin dari sebuah conversation atau artikel. FYI, sebelum belajar untuk tes IELTS ini, saya udah jarang banget baca buku, apalagi buku bahasa Inggris ato jurnal. Paling cuma artikel berita dan status socmed :p

Karena sewaktu tes saya kurang fit, di saat tes Speaking (yang mana saya dapet giliran hampir akhir), saya jadi nggak maksimal. Saya cuma jawab pertanyaan sekenanya aja dari interviewer tes Speaking, karena pengen buru-buru selesai. Jadi usahain badan fit waktu ujian yaa.

Untuk sumber belajar, saya pake buku soal IELTS Practice Test – Peter May dan sambil ngubek-ngubek di YouTube, salah satunya di channel IELTS from IDP Education.

Akhirnya, inilah hasilnya belajar ngebut selama seminggu sebelum tes…

img_20161226_161758_hdr_1482743962852_1482744193376
itu saya beneran kok. nggak pake joki ujian kok.

Sayang banget kurang 0,5 poinnya :”( Nggak cukup kalo buat daftar sekolah nanti. Tapi alhamdulillah sudah cukup skornya buat syarat WHV.

Setelah dapet hasil tes, dapet cerita dari temen yang ikut belajar English di Kampung Inggris di Pare, Kediri, selama sebulan penuh. Dari yang awam banget sama English dia bisa dapet skor 5,5!

Well, buat kamu yang mau ambil tes IELTS ini, it’s okay tho. Yang penting cukup belajarnya.

Good luck guys!

Thank you for reading this post ­čÖé

 

*Biaya untuk tes IELTS di bulan Oktober 2016; 2,750k