Malaysia – Singapura (part 3 – end)

Sepanjang perjalanan pemandangan yang bisa dilihat adalah jalanan yang lempeeeng dan kebun sawit di sisi kanan kiri jalan. Sudah habis rasa kantuk, digantikan rasa lapar. Diganjel pake biskuit pun nggak mempan -_____-“.

Sesaat setelah masuk wilayah kantor imigrasi Malaysia, penumpang diminta turun membawa semua barang bawaan. Semua berirama cepat. Nggak ada yang berleha-leha santai. Oleh petugas saya ditanya apakah saya sudah mengisi kartu imigrasi? Saya bilang belum, begitu saja. Hanya ditanyai. Dan setelah mendapat cap saya melenggang keluar mengikuti kemana orang-orang berjalan. Ikuti firasat saja, saya and the gengs akhirnya turun eskalator. Dan benar saja, bus Delima menanti di parkiran bus. Tak lama bus Delima berangkat.

Melewati jembatan (yang menurut saya kayak jembatan suramadu ini) saya ada di tengah-tengah teritori 2 negara. Tak lama kembali harus turun, membawa gembolan tas dan mencari tanda keabsahan untuk kami tinggal di Singapura. Kali ini petugas meminta para pendatang untuk mengisi kartu imigrasi. Karena saling menunggu dan sempat hilang arah, kami ditinggal bus Delima. Inilah sebabnya semua (harus) tergesa-gesa.

Oleh teman Rieke yang tinggal di Singapura, kami disuruh naik SBS 160 untuk kemudian turun di stasiun MRT terdekat. Bayarnya 1.10 SGD. Turun di stasiun MRT Kranji, menuju stasiun Bugis. Kami sudah depesankan penginapan di daerah sana oleh teman Rieke. Oya teman Rieke ini namanya mbak Vinda ­čÖé

Kami turun dan disorientasi. Agak shock dengan stasiun yang punya beberapa pintu. Kali itu kami keluar lewat Bugis Junction. Weleeeh rame banget pokoknya sore itu. Baru ingat kalo hari itu adalah hari Minggu #ngeeek

Kami sudah kepalang lapar. Mendapati gambar burger di jendela toko itu seperti memanggil kami. Sudah kenyang, lalu bingung ke mana arah penginapan kami sebenarnya. Peta di web penginapan malah membuat kami bingung. Kami tanya beberapa orang tentang nama jalan penginapan itu tidak ada yang tahu.

Mbak Vinda menyarankan kami naik bus dari halte di depan stasiun MRT Bugis lalu turun di halte yang berikutnya (dan disebutin juga nomer-nomer bus yang bisa kita naikin). Baiklah kami naik bus. Tapi kami salah start, alias naik dari halte yang salah. Kami naik dari halte bus depan Bugis Street┬áhueheheheheee… *belum makan bego, udah makan pun tetep :p*

Yaudiiin deeh kami nyasar. yuk mareee… Kami malah muter-muter nggak jelas setelah turun di 2 halte berikutnya, sampai akhirnya berhenti di hotel Raffles (hotel super muahal di Singapura). ┬áDengan tingkat cape yang udah “high” di antara kami semua, si Rieke memutuskan mau naik taksi ajah. Sementara saya bersikukuh buat sebisa mungkin jalan aja. Baiklah, kami berpisah. Saya bersama Diyan dan Cuprid.

Kami tanya orang-orang yang lewat, tanya petugas 7/11 daerah penginapan kami, beberapa tidak tahu, dan beberapa lainnya kami kesulitan ketika mendengar penjelasannya. Akhirnya setelah bertanya ke beberapa orang, kami kembali ke arah semula, di Bugis Junction. Saking senengnya udah nemu arahnya, kami lari-lari dalam keadaan cape.

Di mana sih penginapannya? Jadi kami dipesankan penginapan di ABC Hostel. di Jalan Kubor, daerah Arab Street. *fiuuuuh *lap keringet

Begitu sampe di penginapan kita bilang udah reservasi (in English) etapi ternyata resepsionisnya ada yang bisa bahasa indonesia lancar jaya!! Emang kayaknya Itu orang Indonesia. Kami dapat harga $ 23 Singapore per hari, untuk harga promo (normal $26 Singapore) ditambah deposit key $10 Singapore. Tapi kami harus pindah di hari ke-2. Sip deh mbakyuuuuu (kata saya dalam hati)

Sampai di kamar yang berisi 6 bed, langsung peluk guling dan guling guling di kasur…Syurgaaaa sekali dengan AC yang menyala. 1 lagi yang bikin berbinar-binar adalah ada pemandangan cowok ganteng di kamar! Dan dia orang Indonesia! wooot wooot x)

Ooops, tapi ketika sampe di hostel, si Rieke belom sampe. Jadi ternyata dia ngehubungin Mbak Vinda, buat jemput dia. Dan akhirnyalah dia sampe. Alhamdulillah..dikira ilang itu orang.

Okesipp…Setelah berberes, gengs feat Mbak Vinda jalan ke Bugis Street. Kira-kira makan waktu 10 menit dengan speed kura kura kami wehehehe karena sambil ngobras *ngobrol asyik*

Di Bugis Street saya nemu : magnet kulkas singapore, sampul paspor unyu, gantungan ezlink card (yang peruntukannya masih unknown), dan camilan. Sempat tergoda untuk beli sweater gombrong, apalagi dengan tambahan diskon dari mbak-mbak penjualnya. Yang lain pada beli gantungan kunci, kaos, tas cangklong logo Singapore, trus apa lagi lupa.

Blanja blanji diakhiri pada pkul 9 malam. Karena besok Mbak Vinda kerja, kami berpisah, lalu gengs pulang menuju penginapan. Nggak bisa tidur, bingung mo ngapain, akhhirnya kami keluar ke teras belakang. Eh ketemu bule Kanada, namanya Richard Alexander a.k.a Ridwan Iskandar (well itu nama pemberian temennya di Johor, tempat dia kerja, which is dia tinggal di pemukiman mayoritas muslim). Dia itu mungkin manager resort di sebuah pulau di Johor gitu.

Kami dan Richard ngobrol ngalor ngidul.. Dari perbincangan soal kenapa kami atau Richard sampe terdampar di sini (singapura) sampe perbincangan soal pemimpin dunia.

O.o

Ya untungnya sedikit banyak kami ngerti dengan materi yang dia omongin. Sejarah bangets booow.

Selain Inggris, dia udah bisa bahasa Melayu dan juga chinese. Dan yang terjadi kemudian adalah kita semacam lagi di bimbel bahasa, nyesuain bahasa dan juga maknanya -_______-” yang bikin kita berhaha hihi ama itu bule.

Daaaaaan pemandangan lain malam itu adalah beberapa lady boy yang sliweran di dalem hostel. Walopun kita pertama meyakini bahwa itu adalah cewe2 normal yang mau dateng party. Tapi liat gelagatnya, akhirnya kami yakin kalo itu lady boy… Ohmaii….

Perbincangan berakhir. Kami kembali ke kamar. Lalu mencharge energi untuk besok. YEEEHAAA

Day 6 (20 February)

Ophir Rd on sky

Sepertinya kami terlalu pagi sampai di Orchard Road. Kata Rieke bukanya jam 10 mall-mall di sana. Masih setengah jam menuju jam 10. Berhenti di depan mall Ion, foto2 bentar. Lalu lanjut ke Tangs. Si Rieke mau beli sepatu Vans di situ katanya. Kita ngekor. Sambil Rieke beli sepatu, saya liat kamera-kamera lomo yang aneh-aneh. Well harga-harga sama dengan keseluruhan uang saku saya berangkat selama perjalanan, dan bahkan lebih. Saya cuma manggut-manggut ajah dengerin masnya nerangin harga-harganya (–,)

Kelar muter-muter Tangs, kita meluncur menyebrang jalan naik jembatan penyebrangan. ADA ESKALATORNYAAAAH!! *okee, ndeso saya kumat* Baru kali ini saya nemu jembatan penyebrangan ada eskalatornya. Waktu itu sempet mampir di Giordano, beli kaos tulisan ” I love SG” harga $10 Singapore kalo beli 2. Saya patungan ama Rieke. Abis itu juga beli kaos hang ten harga $15 Singapore untuk 2 kaos. Lagi-lagi patungan ama Rieke.

Untuk bisa nonton Song of The Sea, kami menuju Vivo City untuk beli tiketnya. Lalu mampir makan dulu di pujasera.

Baliknya saya berpencar. Mereka ke Penginapan sedangkan saya ke National Library. Sumpah saya penasaran dengan perpus luar negeri. karena gak kesampean yang di Kuala Lumpur, saya bersikukuh harus ke sini walau badai mengahadang *halah

Tapi sebelum sampe di National Library, saya ke SAM (Singapora Art Museum) dulu. Persis waktu saya masuk, 10 menit kemuadian ada tur museum. Kalo mau masuk dan muter-muter museum harusnya bayar $10 Singapore. Oke. Saya nggak jadi ikutan. Saya keluar menuju ke National Library. Dan saya bengong, terkesima. Apalagi setelah masuk. Tanpa harus menitipkan tas, jaket atau apapun barang bawaan kita. Semuanya tenang, suasanya remang dan nyaman. Asli!nyaman banget buat bobok hahahaa. Saking bingungnya saya mau baca apa, saya malah baca majalah Nylon edisi Dave Ghrohl mwehehehehe (payah).

Nggak lama saya keluar menuju gedung di belakang National Library. Bras Basah namanya. Banyak toko buku bekas, beberapa toko stationary, dan ada juga toko buku yang emang jual buku baru. Mo nyari Lonely Planet edisi lawas, tapi nggak ada yang seseuai keinginan dan budget. Keluar dari Bras Basah bawa tentengan berisi beberapa bulpen, dan sebuah buku novel. Lalu menuju ke stasiun MRT. Udah d sms Diyan untuk segera ke Merlion. Saya sempet hilang arah. Muter-muter nggak karua. nggak ngerti stasiun mana harusnya turun.

Akhirnya turun di Harbour front, lalu nanya gimana caranya ke Merlion. Kaki udah sakit luar biasa. Tapi karena udah liat Merlion (di seberang sungai) langkah pantang berhenti *prok prok prok* Setelah foto-foto bentar di Merlion,  kami balik menuju stasiun MRT. Ditunjukin oleh bapak-bapak yang kami tanyai,  emang sih ga perlu pake turun dan ganti kereta. Tapi karena makan waktu yang lebih lama (hampir 1jam naik kereta) kami akhirnya telat nonton Song of the Sea :((

marina bay sands ft double helix bridge

We all sad. $10 Singapore yang sia-sia. Terutama Cuprid yang cemberutnya super sekali hihihi…Kallo Diyan ama Rieke sih udah pernah. Mengobati rasa sakit hati, kami menuju USS!! foto di depan bola dunia huahhahahahaaaa biar kelihatannya kita kayak mampir di situ juga gitu :3

Balik ke Vivo City, janjian dengan Mbak Vinda dan suaminya mas Riza di food festival. Ketemuan, ngobrol ngalor ngidul, trus juga disaranin buat ke Marina Bay jam 11 ntar soalnya ada tembakan lampu-lampu laser ke arah bangunan ARTS SCIENCE MUSEUM. Kami serentak bilang “NO!” kaki pengen copot rasanya waktu itu.

Day 7 (21 February)

Rasanya kurang puas dengan perjalanan saya kali itu.  Semua terasa cepat dan terburu-buru. Dengan 4 kepala tentunya tujuan adalah keinginan dari 4 kepala. Mungkin nanti lain kali kalo ada kesempatan saya ber-solo traveling, mungkin saya mau coba bersepeda keliling kota. Ato jalan-jalan di pedestriannya dari pagi hingga malam.

Mendapat kembalian $10 Singapore deposit dari resepsionis bikin seperti dapat tambahan uang jajan dari ortu ­čśÇ

Kami akan pulang.

Lebih dahulu kami menuju Johor Baru, naik bus kota Singapura. Turun di terminal di Johor Baru. Baru turun kami udah dikerubungin calo-calo tiket. Saya bersikukuh memilih Transnasional atas apa yang saya baca di internet. Tapi sebenarnya harganya sama saja dengan bus-bus lain, sekitar 31 RM. Masih ada waktu 15 menit sebelum berangkat, kami isi perut dulu. Cukup 5RM udah dapet nasi+ayam+sambel..

Perjalanan Johor-Kuala Lumpur ditempuh selama 5 jam. Awalnya kami dsuruh turun di selangor oleh mbah Nita, karena dekat dnegan kajang (rumah mbah Masruh dan Mbah Nita) tapi karena Rieke harus beli pesenan mamanya dulu di KLCC, kami lanjut sampai terminal Bersepadu Selatan.

Saya kehabisan uang ringgit. Segera ditukarkan dollar-dollar yang tersisa di sebuah money changer yang ada di KLCC, dekat dengan stasiun kereta. Nilai tukarnya bagus. Saya tukar secukupnya untuk bisa makan, beli coklat untuk oleh-oleh, dan bayar hutang heueheheee..

mobil F1 di KLCC

Sehabis membeli titipan mamanya Rieke, beli oleh-oleh coklat, dan makan malam di pujasera di KLCC, kami menuju Kajang, naik kereta. Mbah Nita yang (amat sangat) baik  ini akan mengantar kami ke bandara besok pagi, untuk flight KL- Semarang jam 7 pagi . Sebelumnya rencana awal adalah kami akan nginep di bandara malam sebelum pulang.

Setelah dijemput mbah Nita, bercipika cipiki, kami diajak ke sebuah restoran yang luar biasa maknyuss! Kami pesan udang gorang tepung, tomyam seafood dan minuman saya sirap limau (sirup rasa rose diberi perasan jeruk limau). Semuanya JUARA!! Tomyam nya pas banget di lidah, dan kulit tepung udangnya itu MUCHOS ENAKNYA.

Kata mbah Nita, emang orang sana itu suka kumpul-kumpul, nongkrong-nongkrong gitu sampe tengah malem. Terbukti dengan restoran yang waktu saya pulang jam 12 malem masih rame orang.

Sampai di rumah mbah Nita, kami sudah disiapkan kamar yang penghuninya (anak-anaknya) digusur :p. Selesai gantian mandi, langsung cuss tidur karena perjalanan yang ditempuh menuju bandara lumayan jauh. 

Day 8 (22 February)

We won’t this jouney end. But on the other side, we miss the people that we love.

Kala alarm masing-masing dari kami berbunyi dan suara mbah Nita yang merdu membangunkan kami, bayangan sudah menerawang jauh ke Semarang. Saya kangen mama saya. Baru hari itu saya kangen. Hari saatnya saya pulang. Walaupun tiap hari udah kontek-kontekan dan dibiayai pulsa. heheehehee

Jam 5 pagi kami udah siap. Dibekali sisa nuget sarapan kami yang dibungkus ‘unik’ , sebungkus kerupuk basah untuk masing-masing dari kami, dan beberapa bungkus kerupuk kering. Saya sendiri ngerasa nggak enak, udah ngerepotin masih dikasi macem-macem dan dianterin pula. Lalu kemudian saya sadar, dengan memudahkan urusan orang lain, kita pun akan senantiasa dimudahkan. :))

Here we go with mbah Nita. Tapi oopss, ternyata suara bising kami bikin bangun salah satu anak mbah Nita, Mansur namanya, masih kelas 4 SD. (FYI sekolahnya ada dibelakang rumahnya). Masuk sekolah jam stgh8, dia berangkat stgh8 #great .Sempet kenalan dan salaman. Dan setelah dirunut ini anak adalah “OMM” saya -______- well saya punya omm yang masih kelas 4 SD. Eh bahakn dia punya adek yang masih TK besar :O

Jalanan masih gelap saat kami meluncur ke LCCT. Tapi bandara sudah rame banget. Kami menurunkan barang lebih dulu dan mbah Nita cari parkir. Kami disuruh cek in dulu. Karena dipikir abis cek in langsung masuk gate, akhirnya kami duduk-duduk dulu nungguin mbah Nita. Tapi ternyata nggak jadi satu ama gatenya.

Jadilah kami dianter cek in sama mbah Nita. Ditungguin antri. Lalu sebelum berpisah kami sempet foto-foto dulu dengan wajah bangun tidur :))

Sampe di Semarang….

Di gate imigrasi Semarang yang cuma 2 biji, antriannya luamaaa banget. Akhirnya karena saya di urutan terakhir, saya dapet cap dari bilik untuk yang mau dapet VOA (Visa On Arrival) barengan bule-bule.

Diiringi rasa haru, si mama langsung peluk saya begitu kuluar pintu kedatangan. Mungkin dalam hati ,”Akhirnya, asisten rumah tanggaku pulang juga.” huahahahahahah Peace mom :p