Dalam Sebuah Metromini

Sabtu malam yang begitu semarak. Semua kendaraan berceceran di jalan-jalan Kota Jakarta. Termasuk jalan (gang) yang dilewati Metromini ini. Atau memang jalan di Jakarta hanya sebesar gang? Sehingga macet merata?

Seorang penumpang merasa tertipu. “Lu mau lewat mana, pir?”, teriak seorang bapak dengan tampang sangar, kepada si supir. Sementara seorang bapak tua, penumpang lain, berteriak, “Lanjut terus, pir!” Si supir membawa metromini ke arah tujuan, namun merubah rutenya, melewati jalan yang menurutnya jalan pintas, tetapi sama saja padatnya. “Lewat jalan yang biasanya lagi macet pak”, ia beralasan. Karena memang begitu kenyataannya.

Pedal gas jarang-jarang ditekan. Sekalinya ditekan panjang, tak lepas dari 2/3 gigi di atasnya, karena seringnya tertambat pada gigi 1. Asap mengepul, memasuki kabin. Penumpang yang semua duduk, rapi, meski tetap merasa terhimpit, diantaranya mencoba menghindari bau asap itu dengan menutup hidung, dengan tangan maupun masker. Masih merasa beruntung karena bukan siang yang panas, sehingga perlu berkipas-kipas.

Baterai handphone yang habis, menjadi tantangan. Mengusir bosan dengan melihat sekeliling, memperhatikan, mencoba tidur, tidak bisa tidur, lalu mencoba melihat sekeliling, dst.

Hingga akhirnya turun dari metromini.