Malaysia – Singapura (part 3 – end)

Sepanjang perjalanan pemandangan yang bisa dilihat adalah jalanan yang lempeeeng dan kebun sawit di sisi kanan kiri jalan. Sudah habis rasa kantuk, digantikan rasa lapar. Diganjel pake biskuit pun nggak mempan -_____-“.

Sesaat setelah masuk wilayah kantor imigrasi Malaysia, penumpang diminta turun membawa semua barang bawaan. Semua berirama cepat. Nggak ada yang berleha-leha santai. Oleh petugas saya ditanya apakah saya sudah mengisi kartu imigrasi? Saya bilang belum, begitu saja. Hanya ditanyai. Dan setelah mendapat cap saya melenggang keluar mengikuti kemana orang-orang berjalan. Ikuti firasat saja, saya and the gengs akhirnya turun eskalator. Dan benar saja, bus Delima menanti di parkiran bus. Tak lama bus Delima berangkat.

Melewati jembatan (yang menurut saya kayak jembatan suramadu ini) saya ada di tengah-tengah teritori 2 negara. Tak lama kembali harus turun, membawa gembolan tas dan mencari tanda keabsahan untuk kami tinggal di Singapura. Kali ini petugas meminta para pendatang untuk mengisi kartu imigrasi. Karena saling menunggu dan sempat hilang arah, kami ditinggal bus Delima. Inilah sebabnya semua (harus) tergesa-gesa.

Oleh teman Rieke yang tinggal di Singapura, kami disuruh naik SBS 160 untuk kemudian turun di stasiun MRT terdekat. Bayarnya 1.10 SGD. Turun di stasiun MRT Kranji, menuju stasiun Bugis. Kami sudah depesankan penginapan di daerah sana oleh teman Rieke. Oya teman Rieke ini namanya mbak Vinda 🙂

Kami turun dan disorientasi. Agak shock dengan stasiun yang punya beberapa pintu. Kali itu kami keluar lewat Bugis Junction. Weleeeh rame banget pokoknya sore itu. Baru ingat kalo hari itu adalah hari Minggu #ngeeek

Kami sudah kepalang lapar. Mendapati gambar burger di jendela toko itu seperti memanggil kami. Sudah kenyang, lalu bingung ke mana arah penginapan kami sebenarnya. Peta di web penginapan malah membuat kami bingung. Kami tanya beberapa orang tentang nama jalan penginapan itu tidak ada yang tahu.

Mbak Vinda menyarankan kami naik bus dari halte di depan stasiun MRT Bugis lalu turun di halte yang berikutnya (dan disebutin juga nomer-nomer bus yang bisa kita naikin). Baiklah kami naik bus. Tapi kami salah start, alias naik dari halte yang salah. Kami naik dari halte bus depan Bugis Street hueheheheheee… *belum makan bego, udah makan pun tetep :p*

Yaudiiin deeh kami nyasar. yuk mareee… Kami malah muter-muter nggak jelas setelah turun di 2 halte berikutnya, sampai akhirnya berhenti di hotel Raffles (hotel super muahal di Singapura).  Dengan tingkat cape yang udah “high” di antara kami semua, si Rieke memutuskan mau naik taksi ajah. Sementara saya bersikukuh buat sebisa mungkin jalan aja. Baiklah, kami berpisah. Saya bersama Diyan dan Cuprid.

Kami tanya orang-orang yang lewat, tanya petugas 7/11 daerah penginapan kami, beberapa tidak tahu, dan beberapa lainnya kami kesulitan ketika mendengar penjelasannya. Akhirnya setelah bertanya ke beberapa orang, kami kembali ke arah semula, di Bugis Junction. Saking senengnya udah nemu arahnya, kami lari-lari dalam keadaan cape.

Di mana sih penginapannya? Jadi kami dipesankan penginapan di ABC Hostel. di Jalan Kubor, daerah Arab Street. *fiuuuuh *lap keringet

Begitu sampe di penginapan kita bilang udah reservasi (in English) etapi ternyata resepsionisnya ada yang bisa bahasa indonesia lancar jaya!! Emang kayaknya Itu orang Indonesia. Kami dapat harga $ 23 Singapore per hari, untuk harga promo (normal $26 Singapore) ditambah deposit key $10 Singapore. Tapi kami harus pindah di hari ke-2. Sip deh mbakyuuuuu (kata saya dalam hati)

Sampai di kamar yang berisi 6 bed, langsung peluk guling dan guling guling di kasur…Syurgaaaa sekali dengan AC yang menyala. 1 lagi yang bikin berbinar-binar adalah ada pemandangan cowok ganteng di kamar! Dan dia orang Indonesia! wooot wooot x)

Ooops, tapi ketika sampe di hostel, si Rieke belom sampe. Jadi ternyata dia ngehubungin Mbak Vinda, buat jemput dia. Dan akhirnyalah dia sampe. Alhamdulillah..dikira ilang itu orang.

Okesipp…Setelah berberes, gengs feat Mbak Vinda jalan ke Bugis Street. Kira-kira makan waktu 10 menit dengan speed kura kura kami wehehehe karena sambil ngobras *ngobrol asyik*

Di Bugis Street saya nemu : magnet kulkas singapore, sampul paspor unyu, gantungan ezlink card (yang peruntukannya masih unknown), dan camilan. Sempat tergoda untuk beli sweater gombrong, apalagi dengan tambahan diskon dari mbak-mbak penjualnya. Yang lain pada beli gantungan kunci, kaos, tas cangklong logo Singapore, trus apa lagi lupa.

Blanja blanji diakhiri pada pkul 9 malam. Karena besok Mbak Vinda kerja, kami berpisah, lalu gengs pulang menuju penginapan. Nggak bisa tidur, bingung mo ngapain, akhhirnya kami keluar ke teras belakang. Eh ketemu bule Kanada, namanya Richard Alexander a.k.a Ridwan Iskandar (well itu nama pemberian temennya di Johor, tempat dia kerja, which is dia tinggal di pemukiman mayoritas muslim). Dia itu mungkin manager resort di sebuah pulau di Johor gitu.

Kami dan Richard ngobrol ngalor ngidul.. Dari perbincangan soal kenapa kami atau Richard sampe terdampar di sini (singapura) sampe perbincangan soal pemimpin dunia.

O.o

Ya untungnya sedikit banyak kami ngerti dengan materi yang dia omongin. Sejarah bangets booow.

Selain Inggris, dia udah bisa bahasa Melayu dan juga chinese. Dan yang terjadi kemudian adalah kita semacam lagi di bimbel bahasa, nyesuain bahasa dan juga maknanya -_______-” yang bikin kita berhaha hihi ama itu bule.

Daaaaaan pemandangan lain malam itu adalah beberapa lady boy yang sliweran di dalem hostel. Walopun kita pertama meyakini bahwa itu adalah cewe2 normal yang mau dateng party. Tapi liat gelagatnya, akhirnya kami yakin kalo itu lady boy… Ohmaii….

Perbincangan berakhir. Kami kembali ke kamar. Lalu mencharge energi untuk besok. YEEEHAAA

Day 6 (20 February)

Ophir Rd on sky

Sepertinya kami terlalu pagi sampai di Orchard Road. Kata Rieke bukanya jam 10 mall-mall di sana. Masih setengah jam menuju jam 10. Berhenti di depan mall Ion, foto2 bentar. Lalu lanjut ke Tangs. Si Rieke mau beli sepatu Vans di situ katanya. Kita ngekor. Sambil Rieke beli sepatu, saya liat kamera-kamera lomo yang aneh-aneh. Well harga-harga sama dengan keseluruhan uang saku saya berangkat selama perjalanan, dan bahkan lebih. Saya cuma manggut-manggut ajah dengerin masnya nerangin harga-harganya (–,)

Kelar muter-muter Tangs, kita meluncur menyebrang jalan naik jembatan penyebrangan. ADA ESKALATORNYAAAAH!! *okee, ndeso saya kumat* Baru kali ini saya nemu jembatan penyebrangan ada eskalatornya. Waktu itu sempet mampir di Giordano, beli kaos tulisan ” I love SG” harga $10 Singapore kalo beli 2. Saya patungan ama Rieke. Abis itu juga beli kaos hang ten harga $15 Singapore untuk 2 kaos. Lagi-lagi patungan ama Rieke.

Untuk bisa nonton Song of The Sea, kami menuju Vivo City untuk beli tiketnya. Lalu mampir makan dulu di pujasera.

Baliknya saya berpencar. Mereka ke Penginapan sedangkan saya ke National Library. Sumpah saya penasaran dengan perpus luar negeri. karena gak kesampean yang di Kuala Lumpur, saya bersikukuh harus ke sini walau badai mengahadang *halah

Tapi sebelum sampe di National Library, saya ke SAM (Singapora Art Museum) dulu. Persis waktu saya masuk, 10 menit kemuadian ada tur museum. Kalo mau masuk dan muter-muter museum harusnya bayar $10 Singapore. Oke. Saya nggak jadi ikutan. Saya keluar menuju ke National Library. Dan saya bengong, terkesima. Apalagi setelah masuk. Tanpa harus menitipkan tas, jaket atau apapun barang bawaan kita. Semuanya tenang, suasanya remang dan nyaman. Asli!nyaman banget buat bobok hahahaa. Saking bingungnya saya mau baca apa, saya malah baca majalah Nylon edisi Dave Ghrohl mwehehehehe (payah).

Nggak lama saya keluar menuju gedung di belakang National Library. Bras Basah namanya. Banyak toko buku bekas, beberapa toko stationary, dan ada juga toko buku yang emang jual buku baru. Mo nyari Lonely Planet edisi lawas, tapi nggak ada yang seseuai keinginan dan budget. Keluar dari Bras Basah bawa tentengan berisi beberapa bulpen, dan sebuah buku novel. Lalu menuju ke stasiun MRT. Udah d sms Diyan untuk segera ke Merlion. Saya sempet hilang arah. Muter-muter nggak karua. nggak ngerti stasiun mana harusnya turun.

Akhirnya turun di Harbour front, lalu nanya gimana caranya ke Merlion. Kaki udah sakit luar biasa. Tapi karena udah liat Merlion (di seberang sungai) langkah pantang berhenti *prok prok prok* Setelah foto-foto bentar di Merlion,  kami balik menuju stasiun MRT. Ditunjukin oleh bapak-bapak yang kami tanyai,  emang sih ga perlu pake turun dan ganti kereta. Tapi karena makan waktu yang lebih lama (hampir 1jam naik kereta) kami akhirnya telat nonton Song of the Sea :((

marina bay sands ft double helix bridge

We all sad. $10 Singapore yang sia-sia. Terutama Cuprid yang cemberutnya super sekali hihihi…Kallo Diyan ama Rieke sih udah pernah. Mengobati rasa sakit hati, kami menuju USS!! foto di depan bola dunia huahhahahahaaaa biar kelihatannya kita kayak mampir di situ juga gitu :3

Balik ke Vivo City, janjian dengan Mbak Vinda dan suaminya mas Riza di food festival. Ketemuan, ngobrol ngalor ngidul, trus juga disaranin buat ke Marina Bay jam 11 ntar soalnya ada tembakan lampu-lampu laser ke arah bangunan ARTS SCIENCE MUSEUM. Kami serentak bilang “NO!” kaki pengen copot rasanya waktu itu.

Day 7 (21 February)

Rasanya kurang puas dengan perjalanan saya kali itu.  Semua terasa cepat dan terburu-buru. Dengan 4 kepala tentunya tujuan adalah keinginan dari 4 kepala. Mungkin nanti lain kali kalo ada kesempatan saya ber-solo traveling, mungkin saya mau coba bersepeda keliling kota. Ato jalan-jalan di pedestriannya dari pagi hingga malam.

Mendapat kembalian $10 Singapore deposit dari resepsionis bikin seperti dapat tambahan uang jajan dari ortu 😀

Kami akan pulang.

Lebih dahulu kami menuju Johor Baru, naik bus kota Singapura. Turun di terminal di Johor Baru. Baru turun kami udah dikerubungin calo-calo tiket. Saya bersikukuh memilih Transnasional atas apa yang saya baca di internet. Tapi sebenarnya harganya sama saja dengan bus-bus lain, sekitar 31 RM. Masih ada waktu 15 menit sebelum berangkat, kami isi perut dulu. Cukup 5RM udah dapet nasi+ayam+sambel..

Perjalanan Johor-Kuala Lumpur ditempuh selama 5 jam. Awalnya kami dsuruh turun di selangor oleh mbah Nita, karena dekat dnegan kajang (rumah mbah Masruh dan Mbah Nita) tapi karena Rieke harus beli pesenan mamanya dulu di KLCC, kami lanjut sampai terminal Bersepadu Selatan.

Saya kehabisan uang ringgit. Segera ditukarkan dollar-dollar yang tersisa di sebuah money changer yang ada di KLCC, dekat dengan stasiun kereta. Nilai tukarnya bagus. Saya tukar secukupnya untuk bisa makan, beli coklat untuk oleh-oleh, dan bayar hutang heueheheee..

mobil F1 di KLCC

Sehabis membeli titipan mamanya Rieke, beli oleh-oleh coklat, dan makan malam di pujasera di KLCC, kami menuju Kajang, naik kereta. Mbah Nita yang (amat sangat) baik  ini akan mengantar kami ke bandara besok pagi, untuk flight KL- Semarang jam 7 pagi . Sebelumnya rencana awal adalah kami akan nginep di bandara malam sebelum pulang.

Setelah dijemput mbah Nita, bercipika cipiki, kami diajak ke sebuah restoran yang luar biasa maknyuss! Kami pesan udang gorang tepung, tomyam seafood dan minuman saya sirap limau (sirup rasa rose diberi perasan jeruk limau). Semuanya JUARA!! Tomyam nya pas banget di lidah, dan kulit tepung udangnya itu MUCHOS ENAKNYA.

Kata mbah Nita, emang orang sana itu suka kumpul-kumpul, nongkrong-nongkrong gitu sampe tengah malem. Terbukti dengan restoran yang waktu saya pulang jam 12 malem masih rame orang.

Sampai di rumah mbah Nita, kami sudah disiapkan kamar yang penghuninya (anak-anaknya) digusur :p. Selesai gantian mandi, langsung cuss tidur karena perjalanan yang ditempuh menuju bandara lumayan jauh. 

Day 8 (22 February)

We won’t this jouney end. But on the other side, we miss the people that we love.

Kala alarm masing-masing dari kami berbunyi dan suara mbah Nita yang merdu membangunkan kami, bayangan sudah menerawang jauh ke Semarang. Saya kangen mama saya. Baru hari itu saya kangen. Hari saatnya saya pulang. Walaupun tiap hari udah kontek-kontekan dan dibiayai pulsa. heheehehee

Jam 5 pagi kami udah siap. Dibekali sisa nuget sarapan kami yang dibungkus ‘unik’ , sebungkus kerupuk basah untuk masing-masing dari kami, dan beberapa bungkus kerupuk kering. Saya sendiri ngerasa nggak enak, udah ngerepotin masih dikasi macem-macem dan dianterin pula. Lalu kemudian saya sadar, dengan memudahkan urusan orang lain, kita pun akan senantiasa dimudahkan. :))

Here we go with mbah Nita. Tapi oopss, ternyata suara bising kami bikin bangun salah satu anak mbah Nita, Mansur namanya, masih kelas 4 SD. (FYI sekolahnya ada dibelakang rumahnya). Masuk sekolah jam stgh8, dia berangkat stgh8 #great .Sempet kenalan dan salaman. Dan setelah dirunut ini anak adalah “OMM” saya -______- well saya punya omm yang masih kelas 4 SD. Eh bahakn dia punya adek yang masih TK besar :O

Jalanan masih gelap saat kami meluncur ke LCCT. Tapi bandara sudah rame banget. Kami menurunkan barang lebih dulu dan mbah Nita cari parkir. Kami disuruh cek in dulu. Karena dipikir abis cek in langsung masuk gate, akhirnya kami duduk-duduk dulu nungguin mbah Nita. Tapi ternyata nggak jadi satu ama gatenya.

Jadilah kami dianter cek in sama mbah Nita. Ditungguin antri. Lalu sebelum berpisah kami sempet foto-foto dulu dengan wajah bangun tidur :))

Sampe di Semarang….

Di gate imigrasi Semarang yang cuma 2 biji, antriannya luamaaa banget. Akhirnya karena saya di urutan terakhir, saya dapet cap dari bilik untuk yang mau dapet VOA (Visa On Arrival) barengan bule-bule.

Diiringi rasa haru, si mama langsung peluk saya begitu kuluar pintu kedatangan. Mungkin dalam hati ,”Akhirnya, asisten rumah tanggaku pulang juga.” huahahahahahah Peace mom :p

Malaysia – Singapura (part 2)

Day 3 (17 February)

Kami kunjungi kota ini di hari ke-3 perjalanan kami. Salah satu kota yang tercatat sebagai World Heritage City. Ditempuh dengan transportasi bus antar kota selama 2 jam dari Kuala Lumpur.

Public Transportation yang sudah terkoneksi jadi unggulan Kuala Lumpur. MRT dan kereta menjadi andalan. Kira-kira 1 jam perjalanan ditempuh dari Bukit Bintang ke Terminal Bersepadu Selatan.

Terminal Bersepadu Selatan

Masuklah kami ke terminal. Mindset di kepala saya ketika mendengar kata terminal adalah sebuah tempat yang kotor, banyak asep bus, calo dan pedagang asongan yang sliweran. Tapi heeeei… Semua hal-hal tadi sama sekali nggak ditemukan di sini.

The Interior
Departure Board a la Airport

Kami ke Melaka 🙂

Harga tiket ke Melaka seharga 10RM dengan bus Mayang Sari *nama artis yee*, tiap jam ada bus yang berangkat untuk tujuan ini. Selang 2 jam, baru tidur-tidur ayam, kami sudah sampai di terminal Melaka Sentral. Kemudian kami cari platform bus lokal yang letaknya berbeda dengan platform bus antar kota.

Dengan 1RM bus kota membawa kami ke Clock Tower, ikon kota Melaka. Dilanjut dengan mencari penginapan di lorong Hang Jebat. Kami udah catet beberapa alamat penginapan, di samping itu, kami juga mencoba ke beberapa penginapan.

Akhirnya jatuh pilihan ke Tidur Tidur Guesthouse . Pemiliknya, Stanley anak muda Melaka, juga punya distro kaos di bagian depan shophouse-nya, sementara kamar-kamar penginapan ada di bagian belakang. Kami berempat ditawari kamar paling belakang, setelah chit-chat kami ambil kamar itu.

Kamarnya berukuran sekitar 2m x 3,5m. Pendingin ruangannya dari blower dan di kamar nggak ada lokernya, tapi lagian kami kan sekamar. Selain kunci kamar, kami diberi Stanley kunci pintu belakang. Asal tahu aja, belakang guesthouse ini adalah sungai Melaka dan ada jalan setapak di belakangnya. Jadi orang-orang bisa lewat di situ. Kalo malem dihiasi lampu taman gitu jadi romantisss

*peluk tiang lampu* :3

Oleh ayah Stanley, kami dibilang beruntung karena kami ke Melaka pada saat weekend, karena di Melaka punya pasar malam pada tiap weekend di Jonker Street. Ya semacam Pecinan Semawis kalo di Semarang. Let’s find out what’s goin’ on in Jonker Strret.

Karena kelaparan, setelah beberes kami keluar penginapan, menyusuri Lorong Hang Jebat lalu belok ke kanan ke Jonker Strret. Sekitar 5 menit udah sampai. Melewati museum Cheng Ho, pertama kami nggak sadar kalo itu musem, karena ukuran bangunan sama dengan shophouse yang ada di sampingnya. Baru ngeh setelah ada tulisan gede-gede Muzium Cheng Ho.

Jonker Strret siang hari ramai tapi lengang *lhoh?*. Tapi emang dimana-mana jalanan kota Melaka emang lengang. Dan ramenya adalah turis-turis yang keluar masuk toko-toko souvenir di sepanjang Jongker Street. Tujuan utama menuntut untuk dipenuhi : makan! Lalu mampir ke sebuah warung yang rame orang. Kami beli semacam soup seafood yang enak, murah dan mengenyangkan. Baru belakangan kami curiga makanan itu mengandung ‘ibab’ karena memang itu restoran Chinese….*sigh

Berikutnya saya, Diyan, dan Cuprid jalan-jalan ke arah jalan pulang menuju penginapan. Sementara Rieke jalan sendiri mo foto-foto. Saya sekalian masuk-masuk ke toko, lihat macem-macem souvenir. Untuk magnet kulkas harganya 10RM untuk 4 buah, atau gantungan kunci bentuk selop bergambar, 10RM untuk 6 buah.

Pulang ke penginapan kami istirahat, ngobrol-ngobrol ama Stanley. Trus dipinjemin peta Melaka (karena nggak ada free map yang saya temuin di sana). Lalu sorenya Saya and the gengs berngkat menyusuri Jongker Street.YEEEHAAA

Alamakjang! Panjang bener itu ternyata Jongker Street. Semawis kalah deh hahhaaaha..Jalanan ditutup, dan pedagang menggelar dagangan. Yang dijual? Kebanyakan kurang lebih sama seperti yang ada di dalem toko. Harganya juga relatif sama. Tapi banyak juga yang jual makanan. Kami nyobain pancake durian (semacam crepes yang dalemnya diisi durian) rasanya dewa banget!!

Di ujung jalan ada panggung gede, di mana orang setempat nyanyi karokean dan ditonton pengunjung Jongker Street. Pada duduk-duduk gitu, di kursi yang disediain. Lalu kami cari makan, akhirnya kami samperin ibu-ibu penjual makanan yang berkerudung dan nyobain yang namanya ‘Laksa’. Dan ternyata kita nggak doyan -_____- laksanya asem bangeeeett. Setelah itu kami balik ke penginapan.

Sebenernya kota Melaka itu bisa abis dalam sehari. Atau mungkin yang mau menikmati Jonker Street bisa nginep semalam. Tapi kami nginep 2 malam :).

Day 4 (18 February)

Di pagi hari kedua kami menghimpun energi dengan roti tawar yang kami beli tadi malam di salah satu toko di Jongker Street. Kami menuju pasar tradisional di Melaka. Jalan sekitar 10 menit, melintasi jembatan Chan Koon Cheng. Kami berjalan santai, dibuai jalanan Melaka yang lengang.

Kami mampir di sebuah warung yang menjual roti chanai, nasi goreng dan martabak, masih di sekitar pasar. Kami beli nasi goreng dan martabak untuk makan siang ber-3, karena Rieke mau makan siang di warung yang kemarin itu. Harganya masing-masing sekitar 5 RM.

Sambil bawa tentengan kami menyusri bangunan merah yang mengarah ke Muizum Belia Malaysia (Malaysia Youth Museum) yang lagi mengadakan pameran ‘World Press Photo’. Tiket masuknya seharga 2RM kalo nggak salah.

Keluar dari museum, kami jalan ke arah clock tower. Melewat Christ Church, menghampiri Stadthuys. Tapi kami nggak masuk. Saya penasaran jalan-jalan sendiri ke bagian belakang Stadthuys dan ngilang *maapkeuuun*. Ternyata nggak sampe di situ karena berikutnya bertemu dengan reruntuhan Gereja St Paul beserta patung St Francis Xafier.

St Francis Xavier

Di situ saya nguntit rombongan turis Jepang yang dipandu guide, walopun ngomong pake bahasa Jepang, saya teteap aja nggak ngerti :p. Sampe akhirnya dapet sms, dicariin gengs, ditunggu di Stadthuys. Baiklah, saya ambil rute (sotoy) untuk kembali ke sana. Sampai, dan melihat 2 anggota gengs meringkuk lesu di tangga Stadthuys. *halah…Kami balik ke penginapan dan santap siang dengan makanan yang udah dibeli tadi.

Oya, sewaktu dari pasar ke arah Muzium Belia, kami mampir ke money changer yang ada di deretan shophouse dengan dinding bangunan warna merah semuanya. Nilai kursnya bagus. Karena itu, saya balik ke money changer itu sorenya, tapi ternyata tutup (waktu itu hari Sabtu).

Yawess..karena saya jalannya duluan, saya masih harus nunggu the gengs sampe setengah jam kedepan sesuai waktu janjian di clock tower. So saya mampir ke kedai cendol di sebrang clock tower, duduk di samping orang Indonesia ternyata. 2 bapak-bapak dari Medan.

Saya ngobrol-ngobrol macem-macem, sampe ngobrol tentang potensi wisata Kota Lama di Semarang yang kalo disulap lebih bagus, bahkan bisa mengalahkan Melaka. Sayangnya bangunan-bangunan di Kota Lama kurang perhatian, kurang cantik, kurang menarik jadinya.

Saya dan 2 bapak-bapak tadi berpisah, saya menuju ke tampat janjian lalu jalan ke arah Dataran Merdeka, sebuah mall di Melaka. Lha kok malah kaki saya yang kanan sakit sekali. Salah otot sepertinya. Jadilah saya jalan ngesot  terseret -seret. Jarakanya (sangat) lumayan untuk bisa ngiderin sebagian mall lalu balik ke penginapan. Walopun beberapa kali oles-oles counterpain (sambil diliatin orang lewat di dalem mall) tetap aja nggak sembuh.

Saya balik ke penginapan sendirian, berpisah dengan the gengs di pertigaan lorong Hang Jebat dengan Jonker Street. Sampai di penginapan ketemu si Stanley, dia bilang “You walk too much”, abis liat jalanku yang diseret-seret.

Menurut para informan (the gengs) Jonker Street lebih ruamee dari kemaren. Lebih susah jalan dan sumpek. Akhirnya mereka pulang cepet karena nggak bisa nikmatin jalan-jalan di situ.

Oya malem ini sekalian bayar uang penginapan ke Stanley karena kita bingung disuruh bayar pas check out tapi takutnya pas kami mo cabut pagi-pagi itu orang belum nampak. Akhirnya bayar deh malem itu, total 72 RM (18 RM per malem, per orang). Kalo harga standar yang di publish, weekend 20 RM dan weekdays 15 RM. Dikorting ama si Stanley kayaknya. ekekekeke

Day 5 (19 February)

The morning after, we’re ready to go. We’re heading to Singapore by bus. We ask Stanley how to get to Melaka Sentral. He said that we need to walk across the street (that i forgot the name) to cut the way to get the bus. Because if we take the bus from the clock tower, we have to going around and this is wasting our time. So we walked for about 15 minutes.

Sampailah kita di tempat yang udah dikasi tau sama Stanley. Kalo udah nemu SPBU Shell di pinggir jalan brarti kami disuruh nunggu di situ. Baru juga liat Shell-nya, eeh ada bus yang lewat. Jadilah kami lari-larian ngejar itu bus. dan ternyataaaa terminalnya cuma 5 minutes away from there -_____-ahahahahaa. Bayar 1 RM ke supir sekaligus kondekturnya.

Kami sudah beli tiket menuju ke Singapura ini sewaktu sampai dari KL. Kami beli seharga 30RM. Nama busnya Delima. Dijadwalkan berangkat jam 11.00. Saya menunggu sambil nonton TV, atau menonton orang bersliweran, dan menahan lapar. Uang ringgit di dompet saya sudah ludes. Saya & the gengs pun mengais recehan untuk sekedar beli biskuit dan air mineral :3

Saatnya kami berangkat, kursi yang nyaman di bus menyapa kami dengan hangat. Bikin pengen tidur maksudnya :p

Singaporeee…! Here I comeee

bersambung~~

Malaysia-Singapura (Part 1)

February, 15th-22th 2012

“Mbak pasti anak orang kaya yah?..jalan-jalannya sampe Malaysia”, kata seorang ibu orang indonesia yang ketemu di jalan. “Nggak kok Bu, ini duitnya dari hasil nabung ama hadiah menang kompetisi”, jawabku sambil mbatin ‘lhah si ibu sekeluarga (suami + 3 anak) yang justru orang kaya, 5 hari udah keluar duit 40jeti’

:O

Mungkin si Ibu belom kenal istilah backpacker, alias jalan-jalan irit. hmmm…Sooo this is a story of my journey a la backpacker

Sebenernya mungkin mama nggak rela asisten rumah tangganya pergi (lagi) karena dua hari sebelumnya baru balik dari luar kota buat penelitian. Sorry mom.. :p

Berangkatlah saya with the gengs.

ki-ka : rieke,cuprid,diyan

Day 1 (15 February)

Kami naik flight langsung Semarang-Kuala Lumpur. Destinasi kami selama 7 hari ini adalah Kuala Lumpur – Melaka – Singapura. Entah kenapa petugas imigrasi Bandara Ahmad Yani menyembur saya dengan pertanyaan ini, “Mbak, kartu tenaga kerjanya mana?”.

-______________-“

Saya antara mau ketawa ama miris, muka saya tipe-tipe TKW apa yah. *nangis guling-guling*. Saya sembur balik si bapak,” Saya mo liburan kok pak”, dan si bapak cuma ngangguk-ngangguk aja.

Alhamdulillah cuaca cerah waktu berangkat. Tapi sampai Kuala Lumpur mendung 😦  Nggak ambil pusing langsung tancap gas menuju penginapan. With the gengs, kami nginep di daerah Bukit Bintang, namanya Sunshine Bedz . Karena kita nggak punya kartu kredit, malem sebelum berangkat Rieke kirim email. Ternyata baru di cek waktu kita nyampe di situ ama resepsionisnya. Walhasil kami dapet tempat tidur mencar-mencar (which is those beds is the last one they own). Aku kebagian di mix dorm.

VOILAAA…Roome mate saya 2 orang cewek Jerman dan *simpen dulu*. Oke then, karena dilanda kelaperan berat, mampir dulu d McD deket penginapan. Lanjut jalan berpayung mendung ke Petronas Tower. Jalan? Iya jalan. Banyak tuh bule keliaran jalan-jalan di pedestriannya kota KL. Bedanya dengan kami, mereka udah biasa jalan sedang kami jalan dikit udah ngeluh -_____-“

Finally!When we arrived in Petronas Tower : ujan dong yaaa (–,) dan akhirnya mengurungkan niatan foto-foto. Adalah kesalahan ketika pelariannya kemudian masuk mall, ngider-ngider dan tergoda buat beli snack-snack. *diteriakin dompet*

Kapok jalan, kami naik subway pulangnya huhehehee…Sampai di deket penginapan, saya langsung balik ke penginapan, sementara yang lain lanjut jalan muter-muter di sekitar penginapan. Saya mo bayar utang tidur setelah beberpa hari sebelumnya juga kurang tidur (dan masih ada perjalanan panjang lagi). Menurut mereka (setelah besok paginya ketemu aku dan cerita), di sekitar penginapan itu banyak foodstall ama pertunjukkan artis jalanan, dan ada pasar juga.

So i’m gonna telling you who’s the last my room mate. Jeng jeng jeng…. Dia cowok Kanada yang dateng-dateng tengah malem main  (cetek-cetekin) lampu kamar dan blower. Also when i wake up in the morning, i saw him just wearing a (tight) boxer *buru-buru matiin lampu dan keluar kamar*

Day 2 (16 February)

Setelah ready semua dan sarapan di hostel (it’s free! aku makan 2 tangkup roti :p) saya n the gengs siap brangkat!Tapi kemana?

Stelah nanya Josie, resepsionis Sunshine Bedz, dia nyaranin kita ke Batu Caves. Well sebenernya kita udah punya planning kemana-kemana-kemana..Tapi karena bingung mo kemana dulu, akhirnya malah bingung.

Menuju Batu Caves dari penginapan kurang lebih makan waktu 1,5 jam. MRT dari Bukit Bintang disambung kereta dari KL Sentral, turunnya langsung di TKP Batu Caves. Waktu naik tangga di Batu Cave ditemenin ama monyet-monyet yang siap ngusilin. *pasang mata**sikep tas* Baiknya sih ke sana agak pagian, kalo nggak kuat ama sengatan sinar mataharinya bisa bikin kliyeng-kliyeng.

patung di Batu Cave

Setelah turun gunung, lanjut ke Masjid Jamek. Nggak taunya kalo masuk ke situ harus berpakaian lengkap (nutup aurat) jadilah cari destinasi selanjutanya *ngecek map*. Akhirnya kami menuju ke Dataran Merdeka.

sekitar Dataran Merdeka
Other Side of Dataran Merdeka

Kelar panasan di Dataran Merdeka, saya, diyan, cuprid ngacir ke Kuala Lumpur City Gallery , sementara rieke lagi oles-oles counterpain karena kecapean kakinya huehehehe.

Begitu masuk, satu kata AWESOME! Sejarah kota KL dan beberapa ikon dibuatkan maket. Daerah Dataran Merdeka pun dibuatin maket lengkap. Bangunannya sendiri sih kayaknya bangunan lama.

AWESOME
Tampak Depan KL City Gallery

Nggak habis di situ, di ruangan sebelahnya ternyata ada gallery yang jual merchandise macem-macem dibuat dari kayu yang diukir-ukir gitu. Cuma ‘mampu’ liat-liat dan foto-foto doank ngihihi abis itu cabut.

merchandise
macem-macem merchandise
ARCH

Setelah liat map, ternyata udah deket ama Pasar Seni. Cuma nggak ngerti arahnya kemana. Nanya deh sama resepsionis KL City Gallery. Ternyata tinggal nyabrang dan luruus aja lalu belok kanan setelah jembatan.

Etapi di jalan ngliwatin Muzeum Tekstil. Mampir dulu. Dan isinya kurang lebih kayak di museum Batik Pekalongan. Cuma ruangannya lebih adem dan ada gallery store-nya. Masuk situ FREE. Cuma ngisi buku tamu ajah.

Lanjut Pasar Seni, kami nggak lama muter-muter di situ. Cocok banget buat cari oleh-oleh atau macem-macem kerajinan dari Malaysia. Dan menuju ke destinasi selanjutnya : KL Tower.

*.*

Masuk ke KL tower ada tiketnya. Bayarnya 38 RM, tapi cukup bayar seharga 25 RM aja karena beli di hostel. Tapi tetep harus dituker tiket masuk dulu. Jadi semacam voucher yang aku dapet dari hostel itu. *kirain suruh nombok*

Biasa aja sih di situ, selain agak amazed naik turun lift setinggi 100meteran. *pegangan dinding lift* Mungkin kalo malem lebih semarak bisa liat lampu kelap kelip.

nhaaahh…sewaktu nunggu free shuttle bus kala itu, saya ketemu rombongan keluarga yang aku ceritain di depan. Mereka dari Jakarta(not exactly Jakarta). Jadi karena (katanya) duitnya udah menipis, sedangkan mereka masih ada next destination ke Genting (yang mana harga-harga di sana lebih mahal) akhirnya mereka ‘ngintil’ saya n the gengs jalan kaki menuju stasuiun MRT terdekat. Kalo saya nggak naik MRT, karena jalannya udah searah dan deket.

Tapi mereka mau ngrasain moda tranposrtasi selain taksi. *glek* kebayang deh 40jeti itu larinya kemana. Karena selain kemana-mana naik taksi, mereka berkunjungnya ke mall-mall yang ada KL -______-”  mau juga donk pak, bu, jadi anaknya…

Jadi karena saya cerita ke mereka (dibantu cuprid,diyan,rieke),  stasiun Bukit Bintang itu deket banget ama daerah mall-mall (yang belum di explore ama mereka), jadilah mereka skip 1 stasiun…buat jalan ke mall lagi *sigh*

Kami berpisah di depan hostel saya yang semalemnya bayar 30RM, sementara kata si Ibunya, mereka nginep di semacam apartemen yang disewa per malemnya  400an RM. Si Ibu kaget, saya juga kaget.huhahaha…kaget karena ‘kejomplangan’ harga penginapan itu. Kami semua berpisah sambil berpelukan dan salam-salaman dan anak-anaknya pun salim sama saya n the gengs *brasa lebaran*

Masih ada 3 jam lagi sebelum malem. Saya boci (bobo ciang) yang lain juga mungkin sama :p. Dasar kaminya yang backpacker gadungan hehehehe

Rencana malem ini adalah ke Petaling street. Biasa deh, kali ini naik MRT juga, turun di stasiun Maharajalela. Ada yang aneh waktu aku turun MRT, liat seorang bule cowok nyapa si Cuprid. Cuprid pun merasakan hal serupa. Apakah dia bule genit? Apakah kita mo ditodong? Atokah dia mo usil? *lebaaaaiiii*

Salah semua sodara-sodara.! Ternyata itu bule nginep 1 hostel di Sunshine Bedz HUAHHAHAHHAAA…. Dan dia nggak sendirian, tapi bareng 2 orang bule lagi (cewek dan cowok). Mereka adalah Andrew (Tazmania), Anna( perancis), dan Jordan (US).

Kami nyasar, mereka nyasar = KAMI NYASAR BARENG!

Akhirnya nanya orang sekitar situ dan VOILAA…nemu pecinan-nyaaa!!

Sepanjang jalan menuju TKP, saya dapet ngobrol ama Jordan. Alhamdulillah dia ngomongnya nggak kumur-kumur ~_____~ soalnya dua cewek Jerman  di kamar saya ngomongnya kumur-kumur gitu. Nggak jelas.

Senengnya lagi, dia berusa mengkomplitkan kalimat yang aku lupa bahasa Inggsrinya. Dia paham dan maklum banget waktu aku bilang “This is my first time i’m going abroad. I wanna practice my English”, dengan bahasa Inggris yang masih memble.

Sampe Pecinan langsung cari makan. kita semua makan satu meja di salah satu warung. Tetep yahh..pesennya macem-macem biar bisa share 🙂

Selesai makan, aku janjian ketemu ama sodara yang itnggal di KL, mbah Masruh namanya. Sama istrinya mbah Nita. That was the first time i met with them! Dan saya n the gengs ditawarin nginep dirumahnya d malem terakhir sebelum pulang dan mau dianterin ke bandara juga! YIPPIIIEEE

Pas balik ke rombongan, ada bunyi sirene, dan pedagang yang ada di Pecianan pada kukutan. Ternyata emang udah jamnya mereka tutup. Kita pun pada balik. Pada beli souvenir dulu. Sementara Andrew, Anna, Jordan yang dikira jalan duluan ternyata nungguin di depan pasar :O

Menuju ke stasiun MRT, saya dapet ngobrol sama Andrew. Dia cerita perjuangan dia buat sampe ke Kuala Lumpur dari Tazmania. Kurang lebih 16 jam dengan beberapa kali transit *tepuk tangan*. Dia juga nanya, saya suka olahraga apa, saya bilang renang, tapi itu juga udah lama banget nggak terlaksana. Kalo si Andrew main Hockey..mainnya di rumput gitu, karena di sana nggak kebagian turun salju katanya.*mindset-nya main hockey slalu di salju*

Oke deh, nggak langsung balik ke penginapan, karena penasaran dengan pasar yang dimaksud gengs malem sebelumnya, akhirnya saya n the gengs ke sana. Rameee…ada beberapa street artist unjuk gigi dan kami mandek di foodstall yang jual sate-satean, beli beberapa macem. Selesainya baru deh balik ke penginapan. Recharge energi untuk besok ke Melaka. 😀

Oya, sebelum tidur akhirnya kenalan ama si cowok Kanada, namanya Erin (dan dia pun memakai kostum yang sama dengan malem sebelumnya (boxer ketat) tapi kali ini ditutupin selimut). Dia cerita kalo dia abis dari Thailand dan dia memakai kostum ‘itu’ karena kepanasan.

Therefore, dia megang remote AC aja donk!! Suhunya nggak tau brapa derajat pokonya bikin saya menggigil. Kalah telak ama 2 bule Jerman dan 1 bule Kanada (which is mereka udah terbiasa dingin), walopun udah pake selimut dan pake jaket. damn… (–“)

bersambung~~