Ada Binatang di Kebun BInatang Ragunan *Yaiyalah…

Ternyata Kebun Binatang Ragunan itu luaaaas sekali. Saya dan Diyan, Fira, Dela udah mastiin keluasannya waktu main kesana, bulan Mei 2013 lalu. Main ke rumah binatang-binatang ‘nggak biasa’ di Jakarta ini harus bayar lhoh. Harga tiketnya 4,500 ajah buat para dewasa kayak kita. *Ciee dewasa cieee* Abisnya kita bilang ke petugas loket kalo kita masih anak-anak, si petugasnya nggak percaya. Yaudah deh kita jadi dewasa.

Hmmm… Untung hari itu mendung. Jadi kami berpayung mendung, berkeliling kebun binatang. Deuh…. sayangnya kami nggak bawa bekal dan tiker untuk berpiknik ria di atas rumput-rumput hijau di taman kebun binatang. Tapi kami bawa handphone berkamera, berfoto-fotolah kami.

Mau ke..... Mampang!
Mau ke….. Mampang!

Karena kakinya cuma 2 dikali 4 sedangkan Ragunan ini luas, kami naik kereta wisata gitu. Eh ternyata harus bayar lagi, 7,500. Trus dibawa bapak supirnya muter-muter Ragunan. Bapaknya nggak cape kok, kan kita naik kereta (bukan api).

Nih kita di atas kereta wisata….

Aku kok ndak berkacamata ya....
Aku kok ndak berkacamata ya….

Abis naik kereta wisata yang malah nggak bisa liat binatangnya, kami merapat ke kandang gajah. Liatin gajah-gajah yang dusel duselan mo kawin. awuwuwuwu

gajah (hampir) kawin
gajah (hampir) kawin
Dimamam Gajah
Dimamam Gajah

Ahh.. LAMAK! Karena di PHP ama gajah, kami pergi ke kandang lainnya. Trus kami ke sini deh…

Pelican
Pelican
Kandang Burung
Penghuni Kandang Burung
Zebra Mamam Yumput
Zebra Mamam Yumput

Mampir ke rumah Pak Jerapah dan Bu jerapah juga. Tapi mungkin lagi bobok siang, jadinya kami….

Photo-1833
Rumah Jerapahnya ada di belakang itu

Yuk udah ah cape jalan-jalan terus. Kami pulang deh. Nggak tau kalo ada tempat (yang kata temen) kece berat. Namanya Pusat Primata Schutzer. Tapi malah ketemu ini….

Paaaak! Beruangnya lepas satu paaak!!
Paaaak! Beruangnya lepas satu paaak!!

Bapak petugasnya baik-baik kok. Binatangnya juga alhamdulillah pada sehat kelihatannya. Nanti kalo kesini lagi harus bawa tiker dan bekel ah!!

Petualang Pasar

Pasar. Dari namanya sudah cukup ramai mendengarnya. “Jangan ramai! Macam pasar saja kelas ini.” Keluh guru saya. Dari SD sampai SMA, keluhannya sama, dengan orang yang berbeda.

Pasar = ramai

Sejak saya masih kecil, pasar sudah menjadi tempat petualangan saya. Bisa jadi karena saya perempuan, menjadi naluri bahwa kegiatan berbelanja adalah sesuatu yang menyenangkan. Anak kecil suka melihat hal baru, selalu ingin tau, dan mencoba hal baru. Itu  masa kecil saya. Mungkin berbeda dengan Anda, maupun orang lain.

Ikan didalam plastik yang menggantung, suara deru mesin parutan kelapa, jajanan pasar yang siap dibungkus, tutup panci yang dijajakan berkeliling, mata ikan ikan yang melotot melihat lalu lalang orang berbelanja (atau hanya sekedar berlalu lalang).

Ke pasar menjadi kegiatan rutin mingguan di hari Minggu di kala SD. Kemudian memudar kala SMP-SMA karena dikalahkan oleh kegiatan bangun siang. Mencari sayuran, jajanan, dan mainan. AHA! Saya dan adik saya selalu merengekkan ini : MAINAN. Sekedar stiker, lego KW, atau yang lain.

Untuk informasi Anda (FYI), Jamu di Pasar Ngaliyan itu juara! Dari dulu sampe sekarang, ibu jamu yang juara itu masih mempertahankan “taste” jamunya. Bahkan waktu nggak sengaja nonton acara TV dengan judul “Jagad Jamu”, saya ikut bangga bukan kepalang. Si ibu tampil di situ. Dengan tubuh gemuknya, beliau lincah menuangkan, membungkus, me-refill jamu untuk pelanggan. Jamu ini wajib beli setiap kali saya ke pasar Ngaliyan.

Hmmm.. Apa lagi ya?

Waktu udah bisa nyetir motor sendiri, saya yang jadi garda paling depan untuk disuruh ke pasar. Kalo katanya beli barang di pasar tradisional harus nawar, seinget saya, saya selalu bayar sesuai kata si penjual. Alias nggak pake nawar. Tentu aja udah dibekali info range harga dari mama. Mungkin si penjual tau juga kalo yang beli itu bocah =P

Walaupun becek, bau, dan panas, pasar bisa lhoh, jadi tempat petualangan. Jadi kapan ke pasar? =)

Dapet salam dari ayam. =)
Dapet salam dari ayam. =)

Dalam Sebuah Metromini

Sabtu malam yang begitu semarak. Semua kendaraan berceceran di jalan-jalan Kota Jakarta. Termasuk jalan (gang) yang dilewati Metromini ini. Atau memang jalan di Jakarta hanya sebesar gang? Sehingga macet merata?

Seorang penumpang merasa tertipu. “Lu mau lewat mana, pir?”, teriak seorang bapak dengan tampang sangar, kepada si supir. Sementara seorang bapak tua, penumpang lain, berteriak, “Lanjut terus, pir!” Si supir membawa metromini ke arah tujuan, namun merubah rutenya, melewati jalan yang menurutnya jalan pintas, tetapi sama saja padatnya. “Lewat jalan yang biasanya lagi macet pak”, ia beralasan. Karena memang begitu kenyataannya.

Pedal gas jarang-jarang ditekan. Sekalinya ditekan panjang, tak lepas dari 2/3 gigi di atasnya, karena seringnya tertambat pada gigi 1. Asap mengepul, memasuki kabin. Penumpang yang semua duduk, rapi, meski tetap merasa terhimpit, diantaranya mencoba menghindari bau asap itu dengan menutup hidung, dengan tangan maupun masker. Masih merasa beruntung karena bukan siang yang panas, sehingga perlu berkipas-kipas.

Baterai handphone yang habis, menjadi tantangan. Mengusir bosan dengan melihat sekeliling, memperhatikan, mencoba tidur, tidak bisa tidur, lalu mencoba melihat sekeliling, dst.

Hingga akhirnya turun dari metromini.